Arsene Wenger menginginkan Theo Walcott Terus Menjadi Striker

Arsene Wenger menginginkan Theo Walcott Terus Menjadi Striker

Arsene Wenger menginginkan Theo Walcott Terus Menjadi Striker

Sebelum nya sebagian besar Theo Walcott berkarir menikmati peran sebagai winger.

Manajer The Gunners, Arsene Wenger tegaskan niatnya untuk kembali memasang Theo Walcott sebagai seorang striker murni dilapangan. Sang pelatih pun ingin keputusan ini berjalan kedepannya untuk waktu yang panjang.

The Proffesor mengatakan bahwa winger internasional asal Inggris tersebut telah terlalu lama bermain di posisi sayap di barisan tengah lapangan. Menurut Wenger, sudah saatnya Walcott nikmati peran sebagai penyerang utama di Tim.

“Walcott bisa saja bermain di sisi lapangan, namun jika Anda meminta pendapat saya di mana dia seharusnya bermain pada masa depan, dia harus berada di dalam tim penyerangan. Jika Anda menanya dia, dia akan memberitahu Anda hal yang sama. Kenapa? Karnea dia memiliki kecepatan bak elektrik, dia juga memiliki kualitas yang bagus dan cepat saat dia berlari,” ujar Wenger.

“Jika Anda memiliki kualitas tersebut, itu adalah kualitas dasarnya dalam diri penyerang, ruang di mana dia bisa banyak mendapatkan bola, yang mana dia berada di atas rata-rata dibanding banyak pemain pemain lainnya.”

“Dia bisa ditaruh sebagai sayap, dia bisa ditaruh ke tengah. Cristiano Ronaldo secara resmi masih bermain di posisi sayap. Namun Ronaldo selalu dapat mencetak banyak gol di sisi lapangan karena di Manchester United dia bermain di kanan, saat itu dia mencetak 30 gol.”

“Dia jago bertarung di udara, sangat bagus dalam menyundul bola. Itu tentu bukanlah kekuatan yang di miliki Walcott, akan tapi kualitas berlari dia dan finishing-nya berada di kelas teratas,” tutur Wenger.

Akankah Ada Happy Ending Buat Milan?

Akankah Ada Happy Ending Buat Milan?

Akankah Ada Happy Ending Buat Milan?

Milan berharap bisa meraih kemenangan di partai terakhir Serie A Italia musim ini, tapi apakah mungkin meraih angka penuh di markas Atalanta?

Milan akan meladeni Atalanta dalam lanjutan Serie A Italia pada pekan terakhir musim 2014/15 di Atleti d’Azzurri.
Harapan Milanisti tentunya skuat besutan Filippo Inzaghi bisa memberikan kado indah di laga terakhir mereka pada musim ini.

Tapi apakah memungkinkan bagi Milan bisa memberikan kado tersebut dan mengakhiri musim dengan hasil yang lumayan?

Indikasinya tidak mengarah demikian. Secara grafik penampilan, Jeremy Menez cs tidak menunjukkan performa yang meyakinkan di tujuh partai terakhir mereka. Hanya dua kemenangan bisa dicatat dengan empat partai lain disudahi dengan kekalahan. Satu laga lain berkesudahan imbang.

Itu berarti, hanya 36 persen peluang Milan bisa meraih kemenangan dari tujuh partai terakhir mereka. Bukan catatan yang bagus pastinya.

Tapi untuk akhir pekan ini, Milan lebih diunggulkan meraih kemenangan meski harus menjalani laga di kandang Atalanta. Menurut detikbola.net, Milan lebih diunggulkan (2.40) meraih kemenangan ketimbang Atalanta (2.60) di laga tersebut.

Pertimbangannya bisa jadi karena performa Atalanta yang juga kurang meyakinkan. Penghuni peringkat 17 klasemen sementara Serie A tersebut hanya mampu meraih satu kemenangan dari tujuh laga terakhir mereka, dengan lima partai lain berkesudahan dengan imbang.

Selain itu, Atalanta juga sudah berada di zona aman dari degradasi. Perolehan 37 angka saat ini sudah cukup untuk menghindarkan mereka dari zona merah dan kewajiban bermain di Serie B musim depan. Itu berarti ada kemungkinan bagi Atalanta bermain aman di partai terakhir mereka.

Meski begitu, Atalanta memiliki rekor yang cukup baik meladeni Milan dalam lima laga terakhir, dengan tiga kemenangan menjadi milik mereka.

Mathieu Flamini Berharap Tampil Di Final Piala FA

Mathieu Flamini Berharap Tampil Di Final Piala FA

Mathieu Flamini Berharap Tampil Di Final Piala FA

Namun, dirinya lebih mementingkan kebutuhan tim daripada ambisi pribadi.

Meski sulit menembus tim utama Arsenal, gelandang asal Prancis, Mathieu Flamini berharap dirinya dapat turut ambil bagian dalam Final Piala FA, Sabtu (30/5) nanti, menghadapi Aston Villa. Flamini lebih suring menghuni bangku cadangan di paruh kedua musim, setelah dilewati juniornya, Francis Coquelin.

Menurut Flamini, hal tersebut merupakan sesuatu yang wajar dan adalah bagian dari kehidupan sebagai pesepakbola.

“Ya, saya bermain di banyak pertandingan saat paruh pertama musim, dan di paruh kedua musim saya sempat cedera dan sulit untuk kembali ke tim,” ujarnya dalam konferensi pers di pusat latihan Arsenal. “Jika anda melihat statistik, kami memenangkan hampir semua pertandingan kami sejak bulan Februari.

“Ketika tim terus-menerus menang, maka tidak banyak yang anda bisa lakukan, kecuali berlatih keras dan membuktikan anda pantas mendapat tempat di tim.” tukas mantan gelandang Olympique Marseille tersebut.

Flamini juga menegaskan dirinya bahagia di Arsenal meski jarang bermain dan lebih mementingkan kepentingan bersama ketimbang ambisi pribadinya.

“Saya bahagia bisa menjadi bagian dari klub ini. Sekarang kami berkesempatan memenangkan sebuah trofi, itulah yang terpenting bagi saya.

Saya kira situasi pribadi masing-masing pemain tidaklah penting, kepentingan bersama lebih penting terutama ketika kami akan bertanding di Final Piala FA dan berusaha meraih trofi tersebut.” tandasnya.

Sejarah Hari Ini 28 Mei: Final Liga Champions Pertama Di New Wembley

Sejarah Hari Ini 28 Mei: Final Liga Champions Pertama Di New Wembley

Sejarah Hari Ini (28 Mei): Final Liga Champions Pertama Di New Wembley

Setelah kembali dibuka pada 2007, New Wembley menggelar final Liga Champions pertamanya persis empat tahun silam.

Wembley merupakan salah satu arena yang bersejarah di Inggris. Stadion yang dipakai untuk pertandingan tim nasional Inggris tersebut juga menjadi saksi bisu bagi beberapa pertandingan bersejarah entah itu di ajang internasional, Piala FA, ataupun turnamen lain.

Tetapi, pada tahun 2003, Wembley diruntuhkan dan butuh waktu empat tahun untuk membangun stadion baru yang dinamakan New Wembley. Pada tanggal 24 Maret 2007, pertandingan internasional pertama di New Wembley antara Inggris U-21 kontra Italia U-21 resmi menandai awal baru dari stadion yang mampu menampung 90.000 penonton tersebut.

Namun, butuh waktu empat tahun setelah kembali dibuka sampai New Wembley dapat menggelar perhelatan prestisus dalam bentuk final Liga Champions. Momen yang ditunggu-tunggu tersebut akhirnya datang juga pada musim 2011, dimana Wembley menjadi tuan rumah final Liga Champions musim 2010/11.

Final tersebut merupakan final pertama yang diadakan di negeri Ratu Elisabeth setelah terakhir menggelar final Liga Champions pada musim 2002/03, dimana AC Milan mengungguli Juventus dalam All-Italian Final. Stadion Wembley yang orisinil sendiri sebelumnya pernah menggelar final Liga Champions/Piala Champions pada 1963, 1968, 1971, 1978, dan 1992.

New Wembley | Tuan rumah Final Liga Champions 2010/11

Final Liga Champions pertama di New Wembley tersebut mempertemukan tim “tuan rumah” yaitu Manchester United dengan Barcelona. Final tersebut merupakan ulangan final 2008/09 di Roma, yang dimenangkan oleh Blaugrana dengan skor akhir 2-0. Tentunya, bermain di hadapan publik sendiri memberi Tim Setan Merah motivasi ekstra untuk membalas dendam dari dua tahun silam.

Dalam pertandingan yang disaksikan oleh 87.695 penonton di New Wembley tersebut, Barcelona asuhan Pep Guardiola mendominasi jalannya babak pertama. Barca memiliki penguasaan bola sebanyak 68% dan melepaskan 22 tembakan ke gawang United, yang hanya mampu dibalas dengan empat tembakan oleh The Red Devils.

Dominasi tersebut membuahkan hasil di menit ke 27, setelah Xavi melepaskan umpan yang disambut oleh Pedro dengan tembakan dari dalam kotak penalti untuk membawa Barca unggul 1-0. Namun United berhasil menyamakan kedudukan tidak lama kemudian lewat gol Wayne Rooney. Meski pertandingan berjalan satu arah, United berhasil menguasai bola di daerah Barca, Rooney lalu menerima bola, memainkan umpan satu-dua dengan Ryan Giggs, sebelum melepaskan tembakan yang mendarat di gawang Victor Valdes.

Memasuki babak kedua dengan skor sama kuat, Barcelona kembali melanjutkan dominasi mereka. Tidak butuh waktu lama bagi jawara La Liga 2010/11 untuk kembali unggul, di menit ke-54, Lionel Messi berhasil mencetak gol kedua timnya. Tembakan rendah La pulga dari luar kotak penalti, tidak mampu dihentikan oleh kiper United, Edwin van der Sar.

Barcelona memastikan kemenangan mereka dengan gol ketiga yang dicetak oleh David Villa. Seakan-akan tidak mau ketinggalan dengan dua rekannya yang telah mencetak gol, Villa, yang merupakan bagian dari trisula serangan Barca malam itu, melepaskan tembakan melengkung dari luar kotak penalti, setelah menerima umpan dari Sergio Busquets. Gol tersebut mengakhiri perlawanan United, yang kembali harus mengakui keunggulan Pep Guardiola dan anak-anak asuhannya.

Selepas pertandingan, man of the match, Lionel Messi mengatakan: “Kami lebih superior dari Manchester United dan pantas memenangkan pertandingan.” Sedangkan pelatihnya, Pep Guardiola berujar: “Kami senang dengan kemenangan ini, dengan cara kami memenangkannya, menghadapi Manchester United, salah satu tim terbaik di dunia. Kami telah menghasilkan sesuatu yang luar biasa dan sekarang kami memiliki empat trofi Liga Champions.”

Final Liga Champions pertama di New Wembley sekaligus menjadi penampilan terakhir United di final Liga Champions. Demikian juga dengan Barcelona, yang akhirnya kembali melaju ke babak final Liga Champions musim ini.

Sejarah Hari Ini (27 Mei): La Grande FC Internazionale Pertahankan Hegemoni Eropa

Sejarah Hari Ini (27 Mei): La Grande FC Internazionale Pertahankan Hegemoni Eropa

Sejarah Hari Ini (27 Mei): La Grande FC Internazionale Pertahankan Hegemoni Eropa

Sebelum era treble winners 2010 lalu, FC Internazionale juga pernah jadi raja Eropa selama dua musim beruntun pada medio 1960-an.

Meski dalam beberapa musim terakhir prestasinya anjlok, FC Internazionale, tetaplah jadi salah satu klub terbesar di Eropa. Sejarah emas di kancah persepakbolaan Italia, Eropa, hingga dunia, sejak didirikan pada 1908 tak bisa berbohong. Yang paling dikenang, tentu saja saat mereka mencapai puncak tertinggi di musim 2009/10, kala berhasil meraih predikat treble winners, dengan menjuarai Serie A Italia, Coppa Italia, dan Liga Champions.

Namun sebelum catatan emas itu terukir, masa kejayaan Inter selalu tertuju pada periode 1964 hingga 1965 kala mereka jadi raja Eropa dua musim beruntun. Saking luar biasanya, skuat Inter kala itu dijuluki “La Grande Inter”, yang berarti Inter yang maha hebat.

Dan hari ini jadi momen peringatan setengah abad periode terakhir La Grande Inter. Ya, 27 Mei 1965 adalah kali terakhir La Grande Inter mengangkat Piala Champions, setelah semusim sebelumnya juga berhasil meraih trofi tersebut untuk kali pertama.

Sukses menjuarai Piala Champions musim 1963/64 setelah menghantam Real Madrid 3-1, Inter kembali lolos ke final pada pagelaran berikutnya. Kali ini dengan menghadapi jagoan Portugal, Benfica. Disaksikan oleh 85 ribu penonton, La Beneamata diuntungkan karena mayoritas dari mereka adalah Interisiti, lantaran venue finalnya adalah kandang mereka sendiri, stadion Giuseppe Meazza!

Benfica juga bukan lawan yang bisa dianggap remeh. Dahulu As Aguias merupakan salah satu dari tiga tim terbaik di Eropa. Sebelum duel final hadapi Inter, mereka sudah merasakan tiga final dari empat pagelaran sebelumnya. Dua di antaranya bahkan menampilkan Tim Elang sebagai kampiunnya.

Diperkuat oleh sosok-sosok mentereng macam penyerang terbaik di Eropa kala itu, yakni Eusébio dan José Augusto Torres, Benfica jadi tim tertajam turnamen dengan torehan 29 gol. Dua sosok yang disebut sebelumnya bahkan jadi top skor turnamen, dengan masing-masing mengemas sembilan gol.

Namun Inter siap meladeni ancaman mengerikan Benfica lewat ramuan cattenacio pelatih legendarisnya, Helenio Hererra. Lewat deretan penggawa berkelas di lini belakang macam Guiliano Sarti, Armando Picchi, hingga Giacinto Facchetti, Tim Ular Kobra jadi antitesis Benfica. Jika sang lawan merupakan tim subur, maka mereka adalah tim dengan pertahanan terbaik.

Dengan dibantu oleh hujan deras yang mengguyur stadion, Inter mampu bertahan dengan nyaman menahan serangan Benfica. Aliran serangan cepat ala sang wakil Portugal rusak, karena genangan air di berbagai sisi lapangan stadion. Genangan air itu bahkan jadi petaka bagi The Eagles.

Melalui skema serangan balik, striker andalan Inter, Jair da Costa berhasil membawa timnya unggul 1-0 di menit ke-42. Sepakan menyusur tanah pemain asal Brasil ini mengecoh kiper Benfica, Costa Pereira, akibat genangan air hingga gagal diantisipasi. Gol! Inter unggul 1-0 dan hasil itu bertahan sampai pertandingan usai.

Tak pelak, Inter — melalui skuat La Grande — sukses mempertahankan hegemoninya di Eropa. Setelah itu mereka seperti terlelap hingga akhirnya kembali juara 45 tahun kemudian, dengan cara yang lebih luar biasa, yakni treble winners. Skuat juara musim 2009/10 itu kemudian diberi julukan sekuel dari La Grande Inter, yakni La Modern Grande Inter.

Alessandro Del Piero: Kans Juventus & Barcelona Seimbang

Alessandro Del Piero: Kans Juventus & Barcelona Seimbang

Alessandro Del Piero: Kans Juventus & Barcelona Seimbang

Meski Juve menjadi underdog, Del Piero berpandangan kedua kubu punya peluang sama besar untuk menjadi kampiun Eropa di Berlin.

Sulit untuk menepis status favorit dari Barcelona dalam final Liga Champions menghadapi Juventus di Olympiastadion, Berlin, pada 6 Juni mendatang.

Maklum, sementara Lionel Messi cs. telah menjadi salah satu kandidat kuat sejak awal turnamen, kelolosan Bianconeri ke laga puncak adalah sebuah kejutan. Meski demikian, eks kapten Juve Alessandro Del Piero berpendapat kans skuat Massimiliano Allegri untuk menggondol trofi jawara Eropa sama besarnya dengan pasukan Blaugrana.

“Ini adalah kans yang seimbang,” kata Il Pinturicchio, yang pernah menjuarai Liga Champions bersama Juve pada 1996, kepada ESPN.

“Barcelona adalah tim dengan individu-individu sangat kuat, terutama di lini serang. Mereka sangat, sangat berbahaya. Mereka sangat kuat, dan mereka mencapai final dengan mudah.”

“Juventus mengalahkan juara bertahan Real Madrid dan menunjukkan bahwa mereka adalah tim yang sangat kompak dan sangat solid.”

“Mereka tahu bagaimana cara bertahan dan bagaimana mencetak gol. Dalam final satu partai, aspek motivasional akan sangat penting.”

Juventus membidik treble setelah mencaplok Scudetto dan Coppa Italia, sementara Barca juga bisa mengusung misi yang sama jika memenangi final Copa del Rey kontra Athletic Bilbao pada Sabtu (30/5), sesudah sebelumnya menjuarai La Liga.

Laporan Pertandingan: Manchester City 2-0 Southampton

Laporan Pertandingan: Manchester City 2-0 Southampton

Laporan Pertandingan: Manchester City 2-0 Southampton

Gol Frank Lampard dalam laga terakhirnya di EPL membawa City unggul di babak pertama sebelum Sergio Aguero melengkapi kemenangan.

Manchester City mengakhiri Liga Primer Inggris musim ini dengan kemenangan 2-0 kala menerima kedatangan Southampton di Etihad Stadium, Minggu (24/5).

Gelandang veteran Frank Lampard mengemas gol pembuka dalam aksi pamungkasnya sebelum meramaikan MLS Amerika Serikat dan Sergio Aguero memantapkan kemenangan sekaligus menahbiskan diri sebagai topskor kompetisi dengan 26 gol, unggul lima buah atas Harry Kane di posisi kedua.

The Eastlands telah resmi finis sebagai runner-up sebelum laga, dan di klasemen akhir mereka tetap unggul empat angka di atas Arsenal yang membantai West Bromwich Albion 4-1. Sementara dengan hasil ini Soton gagal finis di zona Liga Europa. Mereka terpaut dua angka di belakang Liverpool.

Babak Pertama

Meski sudah pasti menyegel posisi kedua, City tetap menunjukkan determinasi tinggi untuk mengepak kemenangan dan tampil dominan sejak awal.

Terlepas dari tekanan tuan rumah, Southampton mampu bertahan dengan kokoh dan bahkan mencuri peluang emas pertama ketika bola terusan dari Graziano Pelle gagal dihalau Pablo Zabaleta dan berhasil menemui Shane Long, tapi tembakan nama terakhir mampu diselamatkan Joe Hart.

Berikutnya, gantian City menebar ancaman. Sepakan Sergio Aguero usai menerima umpan terobosan David Silva melayang terlalu tinggi di atas mistar. Aguero lagi-lagi berkesempatan mengantar City memetik keunggulan tak lama kemudian, tapi upayanya dimentahkan kiper Kelvin Davis.

Bombardir serangan City akhirnya membuahkan hasil di menit ke-31. Frank Lampard merayakan penampilan terakhirnya di Liga Primer Inggris sebelum menjajal MLS dengan menjebol gawang Soton menyambut umpan silang James Milner.

Keunggulan tidak membuat laskar Manuel Pellegrini berhenti menggempur sang tamu. Tak kurang dari sepasang kans emas diperoleh Aguero untuk menambah angka, namun ia harus mengakui ketangguhan Davis dalam kedua momen tersebut.

Babak Kedua

Soton coba langsung menggebrak pada awal paruh kedua. Hanya 30 detik usai kick-off Pelle mencoba melakukan tembakan improvisasi, tapi melenceng dari sasaran.

Usai tekanan dini dari Soton, pelan-pelan City kembali mengambil alih kendali permainan. Dari serangan rapi dengan rangkaian umpan pendek, bola digulirkan kepada Milner di sisi kanan. Ia lantas mengirim umpan silang yang disambut sundulan Lampard, tapi Davis sukses menangkapnya.

The Saints sendiri masih berupaya menyamakan kedudukan. Satu kans didapat Long di menit 67, namun tendangannya terlalu lemah dan mengarah tepat ke pelukan Hart.

Enam menit setelahnya, Hart melakukan penyelamatan ganda untuk mempertahankan keunggulan City. Pertama kiper timnas Inggris itu menangkal sundulan Sadio Mane, dan berikutnya giliran tendangan Long yang sukses diamankannya.

Memasuki sepuluh menit terakhir, City menggenjot serangan lagi dan Aguero terutama terlihat sangat determinasi untuk masuk papan skor dan menegaskan status sebagai topskor EPL musim ini. Striker Argentina itu harus menunggu sampai dua menit sebelum bubaran untuk akhirnya menjebol gawang Soton.

Berkali-kali harus mengakui kehebatan Davis dalam laga ini, Kun justru sukses melesakkan golnya yang ke-26 musim ini lewat penyelesaian simpel dari jarak dekat menuntaskan umpan sundulan Eliaquim Mangala.

Susunan Pemain:

Man. City (4-2-3-1): Hart: Zabaleta, Demichelis, Mangala, Kolarov; Fernandinho, Lampard; Milner, Toure, Silva; Aguero

Cadangan: Cabellero; Sagna, Kompany, Navas, Jovetic, Dzeko, Bony

Southampton (4-2-3-1): K. Davis; Clyne, Fonte, Alderweireld, Bertrand; Wanyama, S. Davis; Long, Djuricic, Mané; Pelle

Cadangan: Gazzaniga; Yoshida, Gardos, Ward-Prowse, Elia, Reed, Targett

Laporan Pertandingan: Barcelona 2-2 Deportivo La Coruna

Laporan Pertandingan: Barcelona 2-2 Deportivo La Coruna

Laporan Pertandingan: Barcelona 2-2 Deportivo La Coruna

Barcelona gagal meraih kemenangan di laga terakhir mereka di musim ini kala menjamu Deportivo La Coruna di Nou Camp.

Barcelona menyudahi musim 2014/15 La Liga Spanyol dengan hasil imbang 2-2 kala menjamu Deportivo La Coruna di Nou Camp, Sabtu (23/5) malam WIB.
Hasil itu tak menutupi fakta bahwa Barcelona sudah menjadi juara di musim ini dan perolehan poin mereka tak lagi bisa dikejar oleh tim mana pun.

Namun hasil imbang lebih menguntungkan bagi La Coruna. Dengan tambahan satu angka di klasemen, La Coruna dipastikan bisa bertahan di kompetisi La Liga untuk musim ini dengan 35 angka dan bercokol di posisi 16.

Babak I

Laga ini menjadi partai spesial buat sejumlah pihak, seperti di antaranya Xavi Hernandez. Gelandang veteran Barcelona itu menjadikan laga ini kemungkinan besar sebagai laga terakhirnya bersama tim Katalan tersebut, mengingat yang bersangkutan akan pindah ke klub lain di akhir musim.

Thomas Vermaelen juga beraksi di laga ini dengan menjadi starter. Ini menjadi partai pertamanya di laga resmi sejak pindah dari Arsenal di musim panas.

Barcelona pun mengawali laga dengan baik. Tuan rumah bahkan bisa memimpin kala Lionel Messi melesakkan si kulit bundar dengan sundulannya di menit kelima.

Keunggulan tersebut berusaha ditambah oleh skuat Barcelona. Messi kembali memberikan ancaman disusul Pedro melepas tendangan memaksimalkan bola rebound. Tai Fabricio masih bisa melakukan penyelamatan.

Jelang turun minum, Neymar beraksi dengan gocekannya sebelum kemudian menyodorkan bola kepada Xavi. Gelandang veteran Barcelona itu kemudian melepas tendangan keras, namun masih bisa dimentahkan pemain lawan.

Babak II

Start bagus kembali ditunjukkan Barcelona di awal babak kedua. Messi kembali menjadi pencetak gol ketika laga memasuki menit 59, memanfaatkan umpan kiriman Neymar.

Tapi La Coruna belum putus harapan. Usaha memperkecil ketertinggalan membuahkan hasil di menit 67 lewat kontribusi Lucas Perez.

Barcelona kembali menekan untuk bisa menjauh dari kejaran tim tamu. Xavi nyaris mencetak gol ketiga buat Barcelona lewat sepakan lob, namun bola masih bisa diamankan Fabricio.

Semenit berselang, di menit 76, Barcelona malah kecolongan. Diogo Salomao bisa melesakkan bola ke gawang Barcelona dengan tendangannya, memaksimalkan bola rebound hasil tendangan bebas rekannya.

Di menit 85, momen emosional terjadi kala Xavi ditarik keluar dan digantikan pemain lain. Publik Nou Camp pun memberikan sambutan meriah sekaligus salam perpisahan untuknya.

Tak ada yang berubah di papan skor hingga pertandingan berakhir dan skor 2-2 menjadi hasil final laga tersebut.

Susunan Pemain:

Barcelona: Masip; Adriano, Bartra (Mascherano 70′), Mathieu, Vermaelen (Douglas 63′), Xavi (Iniesta 85′), Sergi Roberto, Rafinha, Pedro, Messi, Neymar.
Deportivo La Coruna: Fabricio; Laure, Lopo, Sidnei, Canella (Medunjanin 39′), Alex Bergantinos, Borges, Salomao, Dominguez (Riera 62′), Cavaleiro, Lucas Perez

Frank Lampard Sebuah Kehilangan Besar Bagi Sepakbola Inggris

Frank Lampard Sebuah Kehilangan Besar Bagi Sepakbola Inggris

Frank Lampard Sebuah Kehilangan Besar Bagi Sepakbola Inggris

Lampard akan bergabung dengan New York City musim depan

Manajer Chelsea Jose Mourinho menyampaikan salam perpisahan kepada Frank Lampard. Mourinho menilai, kepergian Lampard ke New York City musim depan adalah sebuah kehilangan besar bagi sepakbola Inggris.
Lampard meninggalkan Chelsea pada bursa transfer musim panas lalu usai menandatangani kontrak dengan New York City. Mantan jenderal lini tengah The Blues itu langsung dipinjamkan Manchester City hingga akhir musim.

Total 608 penampilan Liga Primer berhasil dicatatkan Lampard sepanjang kariernya. Pemain berusia 36 tahun itu juga tercatat sebagai top skorer sepanjang sejarah Chelsea dengan koleksi 203 gol.

“Hal yang sama seperti yang saya katakan tentang Steven Gerrard, saya juga memiliki emosi yang lebih mengenai Frank Lampard. Salah satu pemain terbaik dan paling profesional yang pernah saya latih,” kata Mourinho, seperti dilansir FourFourTwo.

“Dia legenda Chelsea dan Liga Primer. Frank akan melakoni laga terakhir dan saya jelas harus menghormati serta mengharapkan yang terbaiknya di Amerika Serikat. Saya berharap dia cepat kembali ke Inggris karena dia sebuah kehilangan besar bagi sepakbola di sini,” pungkasnya.

Luis Figo Mundur Dari Persaingan Presiden FIFA

Luis Figo Mundur Dari Persaingan Presiden FIFA

Luis Figo Mundur Dari Persaingan Presiden FIFA

Pangeran Ali akan jadi pesaing tunggal Sepp Blatter setelah Figo mundur dari persaingan kursi presiden FIFA.

Luis Figo mundur dari persaingan memperebutkan kursi presiden Fifa sehingga Pangeran Ali Bin Al Hussein jadi satu-satunya pesaing Sepp Blatter.

Mantan pemain Portugal itu sempat mencalonkan diri sebagai Presiden Fifa, bersaing dengan Sepp Blatter, Pangeran Ali, dan Michael van Praag.

Van Praag mundur dari persaingan lebih dulu demi mendukung Pangeran Ali dan saat itu, Figo masih ragu akan keputusannya.

Figo akhirnya mengumumkan pernyataan resmi yang mengatakan dirinya takkan bersaing lagi, mundur dari persaingan pemilu Presiden Fifa.

“Selama beberapa bulan ini saya tak hanya menyaksikan adanya hasrat untuk perubahan , saya menyaksikan insiden secara beruntun, di seluruh dunia, yang menyinggung siapapun yang berharap sepakbola bakal bebas, bersih, dan demokratis,” ujarnya.

“Saya telah menyaksikan dengan mata kepala sendiri presiden federasi yang, setelah satu hari menyamakan pemimpin Fifa dengan iblis, lalu maju ke depan dan membandingkannya dengan Yesus Kristus. Tak ada yang bercerita pada saya tentang ini. Saya menyaksikannya sendiri.”

“Para kandidat dilarang menegur federasi ketika kongres, sementara salah satu kandidat ada yang selalu diizinkan untuk berpidato dari mimbar pribadinya. Tak ada satupun perdebatan publik tentang pengajuan dari setiap kandidat.”

“Proses pemilihan ini merupakan pemungutan suara untuk memberikan kekuasaan absolut pada satu orang – satu hal yang tak ingin saya ikuti.”

“Karena itulah, setelah melalui refleksi pribadi dan berbagi pandangan dengan dua kandidat dalam proses ini, saya yakin apa yang akan terjadi pada 29 Mei di Zurich bukanlah pemilihan yang normal.”

“Dan karena itu tidak normal, maka jangan libatkan saya.”

“Keputusan saya telah diambil, saya takkan bersaing dalam apa yang disebut sebagai pemilihan presiden Fifa.”

“Saya mengucapkan terima kasih sedalam-dalamnya kepada mereka yang mendukung saya dan saya meminta mereka untuk tetap menjaga hasrat regenerasi, walau itu masih butuh waktu, tapi saat itu pasti bakal tiba,” tandasnya.